Home > Vol 5, No 1 (2018) > Tatag Muttaqin, S.Hut, M.Sc1dan Yhon Ardayana2

Efektivitas Penggunaan Metode Tampung Dan Metode Apung untuk Perhitungan Debit Mata Air di Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Studi di Blok Prigen Kawasan Rehabilitasi oleh PT. Gudang Garam TBK.)

Tatag Muttaqin, S.Hut, M.Sc1dan Yhon Ardayana2

Abstrak

Informasi kondisi debit mata air merupakan aspek penentu dalam pengelolaan hutan lestari sehingga metode pengukuran debit mata air yang cocok harus diketahui. Rumusan masalah penelitian ini adalah efektivitas metode tampung dan metode apung dan metode manakah yang lebih efektif digunakan dalam pengukuran debit mata air. Bagaimana kondisi mata air yang ada di kawasan rehabilitasi oleh PT. Gudang Garam TBK Blok Prigen Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Metode yang digunakan dalam pengambilan data dengan teknik observasi lapang, dokumentasi, wawancara dan quisioner dengan berdasar pada aspek Antecendent,aspek Implementation dan aspek Outcome. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017 hingga Januari 2018 di kawasan rehabilitasi oleh PT. Gudang Garam TBK Blok Prigen Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Hasil penelitian ini adalah pada aspek Antencendent segi pengadaan alat yang mudah pada metode tampung tergolong sangat mudah dengan skoring interval yaitu 83,33% dan metode apung sangat mudah dengan skoring interval 76,67%. Biaya pengadaan alat metode tampung sangat murah dengan skoring interval 85,56% dan metode apung murah dengan skoring interval 73,33%. Hasil pengukuran debit mata air pada aspek Implementation yaitu metode tampung memiliki prestasi kerja 4,85 mata air/jam dan metode apung memiliki prestasi kerja 4,65 mata air/jam. Pengolahan data debit mata air menggunakan metode tampung memiliki prestasi kerja 62,57 data mata air/jam dan metode apung memiliki prestasi kerja 48,59 data mata air/jam. Hasil pada aspek Outcome segi selisih hasil pengukuran debit metode tampung adalah sedikit memiliki skor interval 77,78% dan metode apung memiliki skor interval 68,89%. Sekitar lokasi penelitian terdapat enam titik mata air yaitu mata air Kubisan 1, Kubisan 2, Alap-Alap, Grojokan Pring 1, Grojokan Pring 2 dan Jeding Pendem. Pengukuran debit mata air menggunakan metode tampung secara umum lebih efektif dibandingkan metode apung sehingga penggunaan metode tampung dalam pengukuran debit mata air lebih disarankan. Kondisi mata air berdasarkan hasil observasi memiliki kondisi yang baik secara fisiknya.

Full Text

Full Text